“Allah tidak akan melihat kepada seorang wanita yang tidak bersyukur kepada suaminya, dan dia selalu menuntut (tidak pernah merasa cukup)” (HR. An-Nasai) [1]

Bismillah,

Saya menuliskan ini dengan penuh kesyukuran dan keharuan setibanya saya di rumah  (read: Belanda) sembari memeluk mengucapkan terima kasih tak henti-henti kepada suami saya. Ya, kami kembali ke Belanda dengan selamat. Alhamdulillah.

Singkat cerita, kami baru saja mendarat ke benua biru lagi setelah 23 hari melakukan salah satu misi pernikahan kami, yaitu berdoa di Padang Arafah dan di hari Arafah sebelum 5 tahun pernikahan. Alhamdulillah di tahun kedua pernikahan kami, permohonan dan doa ini terkabul. Alhamdulillah. Alhamdulillah. Alhamdulillah.

Awalnya, saya tidak terpikirkan untuk menuliskan hal-hal terkait ini dengan berbagai pertimbangan. Namun, karena masukan dari suami setelah pengalaman di lapangan dan mempertimbangkan pentingnya informasi terkait Ibu-Ibu hamil yang juga akan berpergian haji, Bismillah saya akan tuliskan beberapa pengalaman dan tips untuk menjalaninya.

Apa hamil? Iya Alhamdulillah sujud syukur kepada Allah yang telah memberikan saya amanah dalam perut usianya ketika berangkat 22 minggu lebih dan ketika pulang hampir 26 minggu. Mohon doanya semoga lancar sampai proses melahirkan, mendidik, hingga memenuhi hak-haknya ya. Aamiin Allahuma Aamiin.

Sebelumnya, disclaimer: Kondisi kehamilan berbeda-beda. Apa yang saya tulis bukan bentuk generalisasi untuk semua Ibu hamil. Hanya ikhtiar yang saya usahakan dengan kehamilan saya yang Alhamdulillah sudah sering saya bawa jalan jauh dan naik pesawat sejak bulan pertama. Harapannya, ini bisa menjadikan gambaran ya 🙂

Oke jadi,

Tulisan ini dilatarbelakangi oleh subhanallah terbatasnya menemukan informasi persiapan bagaimana perjalanan haji ketika hamil baik yang berbahasa Indonesia maupun bahasa Inggris, hanya ada satu informasi saya dapat dari Mba Riana di sini. Selanjutnya saya berkorespondensi dengan beliau, namun ada sedikit perbedaan kondisi kehamilan kami, karena saat itu Mba Riana masih hamil relatif muda sekitar 3 bulan seingat saya. Serta, Mba Riana yang tinggal di Spanyol mendapat tantangan untuk suntik vaksin meningitis karena di Spanyol hal itu dilarang diberikan. Bagaimana dengan Belanda dan Indonesia?

Sebelum menulis tentang tipsnya, saya mau menuliskan peraturan untuk ibadah haji dari Belanda dan Indonesia untuk Ibu hamil.

Di Indonesia, pemerintah pada dasarnya tidak melarang perempuan yang sedang hamil untuk beribadah haji selama masa kehamilan adalah 14 – 26 minggu. Ada beberapa juga syarat lain seperti telah mendapatkan suntik meningitis yang harus dilakukan maksimal dua tahun sebelum keberangkatan. Seperti Surat Keputusan Menteri yang saya kutip dari blog berikut.

Pada prakteknya, saat di tanah suci, ketika bertemu dengan jamaah haji asal Indonesia, saya seringkali dipandang dengan wajah penuh kernyitan dahi dari mereka hehehe. Bahkan ada yang langsung menanyakan,”Boleh Mba? Kok lolos?”. Mungkin informasi terkait izin keberangkatan haji untuk ibu hamil 14 – 26 minggu ini belum menyebar luas ya di kalangan haji di Indonesia. Terlebih, syarat suntik vaksin yang dilakukan sebelum kehamilan.

Untuk di Belanda sendiri, tidak ada aturan apapun dari pemerintah terkait larangan berhaji bagi perempuan yang sedang hamil. Bahkan, ketika diketahui saya hamil usia sebulan sekitar Maret lalu, pihak travel memberikan jawaban yang cukup menguatkan dan adem untuk saya.

“Kehamilan dan menjadi tamu Allah adalah dua hal yang hanya dengan izin Allah kita bisa mendapatkannya Ibu Intan. Mari kita berpikir positif InsyaAllah Ibu akan sanggup menjalani keduanya. Allah mengamanahkan keduanya InsyaAllah Allah-lah yang memampukan Ibu.”

Sejak kalimat itu disampaikan, saya semakin optimis InsyaAllah saya kuat menjalaninya. Terlebih, saya terbiasa beraktivitas fisik yang cukup berat sejak kehamilan awal (InsyaAllah akan ada part lain untuk cerita ini). Ada sebuah keyakinan, bahwa kehadiran anak saya di dalam perut pasti akan langsung dijaga Allah melalui malaikat-malaikatNya. Bukan saya. Bukan suami saya. Sebab kami percaya, kekuatan saya dan suami untuk menjaganya tentu tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan segala penjagaan dari Allah 🙂

Kembali ke aturan berpergian untuk berhaji dalam keadaan hamil di Belanda. Meskipun saya tidak diminta surat keterangan hamil atau apapun untuk aplikasi visa Saudi Arabia, tanggung jawab kesehatan janin dan bayi berada di pundak saya. Artinya, sayalah yang harus memastikan secara legal bahwa saya sehat dan mencari informasi sebanyak-banyaknya hal apa yang bisa saya persiapkan sebagai senjata untuk “benteng diri” selama perjalanan.

SEBELUM PERJALANAN HAJI:

  1. Konsultasikan dengan dokter kehamilan atau bidan terkait rencana perjalanan haji.

Meskipun mereka (tenaga kesehatan di Belanda) kebanyakan mengerti atau pernah dengar istilah Hajj and Umra,  mereka tidak familiar dengan detail proses perjalanan haji. Sehingga, saya buat timeline perjalanan haji lengkap dengan aktivitas fisik yang akan kita lakukan. Sebab haji merupakan ibadah fisik, saya buat spesifik terkait kira-kira berapa KM saya akan berjalan kaki dalam sehari, suhu udara di sana, kelembaban udara, kecepatan angin, polusi udara, polusi “virus/bakteri” dan semua kemungkinan-kemungkinan yang bisa terjadi. Dalam konsultasi saya tanyakan:

a. Vitamin atau suplemen apa yang harus saya konsumsi?
b. Makanan apa yang wajib saya konsumsi?
c. Berapa kali lipat porsi dari konsumsi normal ketika di rumah?
d. Kesehatan kandungan dan badan saya setiap konsultasi hingga menanyakan izin terkait vaksin influenza.

Jawabannya: di Belanda memang hanya satu vitamin yang boleh dikonsumsi Ibu hamil, saya pakai merk “Davitamon Compleet Mama”. Udah itu aja. Menurut dokter, itu vitamin dalam satu tablet sudah memuat seluruh hal yang diperlukan oleh janin. Kami tidak disarankan (bahkan cenderung mengarah ke larangan) untuk mengkonsumsi vitamin tambahan artifical vitamine yang terjual bebas seperti vitamin A, B, C, D, E, K. Sebab artificial vitamine C (seperti IPI kalau di Indonesia) yang justru kurang baik untuk perkembangan janin. Dokter di sini mengkhususkan hanya vitamin Compleet Mama yang aman dan dibutuhkan untuk nutrisi perkembangan janin. Jika ingin vitamin tambahan, maka solusinya konsumsi bahan makanan yang mengandung vitamin itu yang harus ditambahkan. Alhamdulillahnya, selama kehamilan ini, saya doyan sekali dengan buah dan sayur. Sampai suami saya pegal bolak balik ke toko buah bawa buah berkilo-kilo ludes dalam sehari 😀

Terus saya tanya lagi, jadi untuk benteng diri mamanya supaya nggak mudah sakit apa dong? Kan kalau di Indonesia itu bisa minum Tolak Angin lah, Imboost, Habatuusauda, dan seterusnya. Jawabannya: “Kamu tidak perlu benteng diri apapun asalkan makan dan minum kamu cukup. Kamu akan fit dan prima.”

Nggak puas dengan jawaban dokternya, saya pun nitip orang tua temen yang akan datang dari Indonesia untuk dibawakan beberapa obat-obatan yang biasa dikonsumsi untuk daya tahan tubuh. Saya bawa ketika konsultasi berikutnya, hasilnya: Tidak ada yang boleh dikonsumsi termasuk habatussauda. Saya kaget sekali tapi jawaban-jawaban dokter ini selalu dengan paper dan jurnal ilmiah yang membuktikan tentang pengaruhnya ke perkembangan janin. Okay, sebagai seorang peneliti, menurut saya argumen beliau valid dan dapat dipertanggungjawabkan sampai ada riset yang membantahnya. Saya terima. Eits tapi, mereka menyarankan saya untuk konsumsi madu. Jadi habatussaudahnya diganti madu deh yang saya beli di Madinah langsung.

Ketidakpuasan saya ini pun masih menggiring saya untuk melihat ke kemungkinan benteng diri lain dengan menanyakan,”Apakah saya boleh vaksin influenza kalau gitu?”

Jawabannya: Boleh! YEAAAAYYYYYY. Girang banget saya langsung bikin janji dengan vaccinecentruum untuk menyusun beberapa vaksin yang saya perlukan untuk berhaji. Dan ternyata mereka sudah punya list lho vaksin apa saja yang diperlukan untuk seseorang yang akan berhaji/umroh.

Saya divaksin Meningitis dan DPT (menurut konsuler yang memberikan vaksin, ini wajib dari pemerintah Belanda untuk semua orang yang akan berhaji/umroh) dan tambahan request saya untuk vaksin influenza. Sayangnya, saat keberangkatan ini pas masa summer. Di Belanda, ketersediaan vaksin influenza hanya ada ketika winter. Artinya saya tidak bisa divaksin influenza.

Jadi setelah panjang lebar terkait debat “benteng diri” dalam setiap konsultasi, saya hanya diizinkan untuk:

  1. Minum vitamin compleet Mama
  2. Konsumsi madu
  3. Vaksin DPT dan meningitis
  4. Vaksin influenza (tapi nggak jadi karena nggak ada stok vaksin ini selama summer, spring, ataupun fall).

2. List perlengkapan (saya menyebutnya peralatan perang) untuk kenyamanan diri ketika beraktivitas nanti.

Berhaji dari Belanda itu membutuhkan kemandirian dan riset yang kuat. Konsultasi sana-sini kepada yang sudah pengalaman karena semuanya dipersiapkan s-e-n-d-i-r-i dari hal besar sampai kecil remeh temeh seperti botol semprot (tanpa difasilitasi pemerintah tentunya). Untuk perlengkapan perang Ibu hamil, saya membeli:

  1. Pregnancy belt. Ini fungsinya untuk membantu tulang belakang kita menopang perut yang semakin membuncit ketika kita berjalan kaki panjang. Saya beli online dikirim dari US. Tapi, tapi, tapi, akhirnya saya tidak pakai karena terlalu mengikat kuat sehingga membuat nafas saya semakin pendek dan sesak. Kalau yang cocok ini sangat disarankan juga oleh dokter sini terutama untuk yang biasa olahraga aktif ketika hamil.
  2. Sepatu yang super ringan, empuk, dan nyaman plus cadangannya ya. Saya investasikan waktu riset ke jenis sepatu ini cukup besar. Cari yang tanpa tali jadi langsung masuk aja slub gitu. Karena ini yang akan menentukan kekuatan kaki kita dalam perjalanan panjang. Meski tidak sama persis, yang saya beli kurang lebih model seperti ini.
  3. Masker yang biasa dipakai untuk orang yang flu di Indonesia itu. Saya nitip orang tua teman yang akan datang dari Indonesia ke Belanda, karena penjualan masker di sini tidak ada. Itu hanya khusus dipakai oleh orang yang berhak dan diberikan langsung oleh rumah sakit. Saya stok untuk ganti masker sehari selama 3 kali. Terkait penggunaan masker selama berihram sendiri, ada ulama yang mutlak melarang ada juga yang mengizinkan dengan udzur tertentu. Saya konsultasi dengan beberapa ustadz dan memutuskan untuk memakai ketika berada di tempat keramaian dimana bersinggungan dengan banyak orang yang batuk, flu, bersin, dan seterusnya karena dianggap ini adalah “jihad” saya menjaga kesehatan janin sehingga diizinkan. Meskipun ustadz yang mendampingi kami selama di Madinah dan Mekkah justru melarangnya.
  4. Kacamata. Sepertinya ini wajib bagi yang hamil maupun tidak hamil ya. Tambahannya, kacamata diberika tali supaya bisa menggantung dileher kita sehingga kita tidak kesulitan mencari-cari dalam tas.
  5. Botol semprotan untuk diisi air. Ini pun lazim bagi yang tidak hamil. Namun, bagi kita yang hamil, lebih wajib lagi karena kegerahan yang kita alami 2 kali lipat lebih tinggi dibandingkan mereka yang tidak hamil. Jadi gunakan botol semprot ini bukan hanya untuk menyemprot wajah. Saya semprot semua anggota tubuh yang kegerahan seperti leher, perut, kaki, dada dan seterusnya.
  6. Pampers! Nah ini heboh banget deh pas nyari pampers. Di Belanda, aki-aki dan nini-nininya mah sehat semua. Jadi nggak ada yang pakai pampers untuk orang dewasa. Tidak terjual sama sekali jenis pampers itu. Perlu seminggu sampai saya menemukan ada jenis pampers untuk anak-anak usia sampai 12 tahun dengan berat badan maksimal 57 kg. Saya beli yang itu wkwkwk. Pampers ini digunakan ketika bermalam di tenda Mina (karena antri toiletnya benar-benar mengajarkan arti kesabaran yang sesungguhnya) dan wukuf di Padang Arafah. Percayalah, 3 hari pertama meski pakai pampers kita nggak bisa pipis di situ. Tapi ketika keadaan sudah mengajarkan kita tentang hal lain, keluar juga itu pipis! Saya pakai pampers setiap kali pipis langsung ganti. Jangan nunggu 2-3 kali yaa, khawatir najisnya kemana-mana.
  7. Sarung untuk ganti pampers di tenda ketika toilet tidak bisa dikompromikan meski hanya untuk ganti pampers :”
  8. Plastik untuk sampah pampersnya!
  9. Tissue basah

Sepertinya itu inti perlengkapan perang ibu hamil yang harus dibeli sebelum keberangkatan haji. Selanjutnya,

3. Olahraga latihan berjalan kaki minimal 2KM.

Ibu-ibu yang sedang hamil yang InsyaAllah dirahmati Allah^^ Olahraga ini emang tricky banget ya. Apalagi ketika menjelang keberangkatan haji saya sedang dikejar-kejar deadline minor thesis. Rasanya untuk makan aja nggak ada waktu apalagi untuk olahraga. Nah, tapi ternyata ini kuncinya kita kuat jalan kaki di sana Bu. Alhamdulillah suami saya cukup disiplin ngatur waktu olahraga nemenin saya jalan kaki yang kayak siput karena perutnya makin mengembang bebas.

Saya memang tipe orang yang agak kurang olahraga selama di sini saking entahlah bagaimana saya kurang bisa membagi waktu dengan baik antara akademik dan kebutuhan olahraga. Saya mengakali dengan cara:

a. 3 bulan sebelum keberangkatan, senam persiapan haji modal panduan YouTube di link tersebut. Ini bisa dilakukan kapan aja tanpa harus keluar rumah. Kita bisa sesuaikan dengan kondisi kandungan ya contohnya dengan nggak terlalu kegirangan jingkrak-jingkrak gitu misalnya wkwkwk. Oh iya, bahkan senam ini saya tunjukkan videonya ketika konsultasi kehamilan untuk konfirmasi kalau ini aman hehehe

b. 2 bulan sebelum keberangkatan, jalan kaki 2Km tadi seminggu tiga kali dengan diberikan waktu agar disiplin kecepatan jalannya jadi bisa meningkatkan daya tahan.

c. 1 bulan sebelum keberangkatan, jalan kaki 2Km setiap hari. Dengan kecepatan yang lebih rendah namun intensitas berjalan yang lebih sering.

Ini semua sangat amat berguna ketika di hari H. Alhamdulillah stamina saya terjaga selama perjalanan di sana. Saya pun tidak sakit sama sekali (flu, batuk, radang, dll). Alhamdulillah.

Kalau untuk suami saya, beliau setiap pagi bersepeda 6Km dan sorenya lari-lari keliling lapangan lari di pusat olahraga depan rumah sampai 4 putaran. Karena beliau akan perlu fisik yang lebih tentunya untuk ikhitar secara langsung menjaga saya dan kandungan.

4. Buat target dan prioritas list ibadah yang akan kita lakukan selama di tanah suci.

Seriusan ini super duper fundamental karena siapapun yang ke tanah suci, saya yakin punya ghirah yang luar biasa untuk melaksanakan ibadah. Kalau istilah lainnya ya Ambi deh alias ambisius. Bagaimana tidak, sholat di Masjid Nabawi pahalanya 1000 kali lipat, sedang di Tanah Haram 100.000 kali lipat. Kan MasyaAllah ya. Tapi ingat, kita sedang berbadan dua Ibu-Ibu. Ada kewajiban dan rukun haji yang harus kita selesaikan dengan tuntas.

Saya sendiri memprioritaskan untuk menyelesaikan wajib dan rukun haji serta umrah (karena hajinya tamatu) dengan baik, lancar, tanpa sakit. Sesederhana itu. Sebab, jika kita pelajari, rangkaian ibadah haji sendiri bukan hal yang mudah. Bagi saya tantangan terbesar bukan ketika jalan tawaf atau sai, tapi justru ketika di Musdzalifah, Mina, dan lempar jumrah. Akan saya ceritakan di part selanjutnya InsyaAllah terkait solusi fisiknya.

Selain prioritas wajib dan rukun haji dan umroh yang lancar tanpa sakit, list ibadah sunnah saya juga sangat sederhana. Target sholat di Masjid Nabawi dan Masjidil Haram juga ada, tapi tentu tidak intensif hingga bermalam atau i’tikaf di sana. Mohon maaf, saya tidak dapat share details list target ibadah saya, namun jika ada yang benar-benar merasa perlu bisa hubungi melalui email saya ya 🙂 Tapi pada dasarnya, kembali melihat kemampuan fisik kita untuk bisa mengutamakan amalan yang wajib baru sunnah.

Alright! Di part satu ini, saya menulis kira-kira seingat saya 4 hal penting yang saya lakukan sebelum keberangkatan haji bagi Ibu hamil. Semoga bisa bermanfaat ya!

Harapan dari tulisan ini sederhana, membangun rasa optimis antara kita para pejuang double jihad (kalau istilah Ustadz yang mendampingi kami). Jihad karena hamil dan jihad karena berhaji. InsyaAllah, ini merupakan salah satu ikhtiar kita ya.

Akhir kata, semoga Allah menguatkan azzam untuk berhaji para ibu hamil dan meluruskan niat untuk selalu berorientasi kepada Allah dalam setiap ibadah kita.

Aamiin ya Rabbal’alamin.

Ditulis saat syahdu senja antara terang dan mendung 4.29PM ketika memulai hari-hari menanti wisuda. Di hari kedua setelah tiba kembali di Belanda.

Ket:

[1] Diriwayatkan oleh an-Nasa-i dalam Isyratin Nisaa’ (no. 249), al-Baihaqi (VII/294), al-Hakim (II/190) dan ia berkata, “Hadits ini sanadnya shahih, namun al-Bukhari dan Muslim tidak mengeluarkannya.” Dan disepakati oleh adz-Dzahabi, dari Shahabat ‘Abdullah bin ‘Amr radhiyallaahu ‘anhuma. Lihat Silsilah ash-Shahiihah (no. 289)